Sunday, July 19, 2009

Blimbing Paciran Lamongan

Gowah Blimbing Paciran Lamongan Bimbing, sebuah tempat pesisir yang panas, terletak di kecamatan Paciran, kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Penduduknya bekerja sebagian besar sebagai pelaut. Sebagian lain bertani, berwirausaha dan mengajar.

Warga Blimbing bersuara keras sekalipun mereka bercakap-cakap dalam nada biasa. Jika anda ngobrol untuk pertama kali dengan mereka, anda merasa sedang dimarahi dan dibentak-bentak. Mereka sudah begitu. Dalam obrolan biasa pun begitu.

FPI di Blimbing Paciran dan sekitarnya

Pada awal 2004, kelompok Islam garis keras Front Pembela Islam (FPI) masuk ke kelurahan ini. Keadaan berubah. FPI membredel mabuk-mabukan, prostitusi, narkoba, dan orkes dangdut. Penyapuan FPI meliputi dusun-dusun kecil yang mengelilingi Blimbing, termasuk Nggrenjeng, Kal Bakal, Kebon, Dengok, dan desa-desa tetangga seperti Kandang Semangkon, Brondong, Jompong, Sendangagung, Keranji, Weru, Gaden dan Sedayu Lawas. Kenakalan dan kriminalitas berkurang, namun kemudian kekerasan-kekerasan dicipta lebih banyak oleh FPI itu sendiri ketimbang oleh remaja SMA yang tawuran atau pemuda yang mabuk-mabukan.

Blimbing dekat dengan monumen Van Der Wijck Lamongan

Sekitar 700 meter dari Gowah, tepatnya di desa Brondong, berdiri Tempat Pelelangan Ikan (TPI) terbesar se-Jawa Timur. Orang Blimbing menyebutnya BOM, meskipun tempat tersebut tak pernah meledak.

Pada 1936, kapal Belanda Van Der Wick tenggelam di perairan Brondong, dalam perjalanan melintasi laut Jawa. Sebagian penumpang warga Indonesia. Ratusan orang hilang, dan perahu nelayan setempat membantu menyelamatkan korban. Untuk memperingati tenggelamnya kapal tersebut, sebuah monumen dibangun di dekat TPI. Jika kebetulan anda pergi ke TPI, masih bisa anda melihat bangunan Belanda itu.

Walau TPI berlokasi di Brondong, dominasi warga Blimbing lebih besar di tempat pelelangan. Transaksi-transaksi dan jual beli ikan dilakukan oleh banyak nelayan dari Blimbing.

Blimbing dan pendidikan Paciran

Di Blimbing, terdapat tiga atau empat Sekolah Dasar Negeri dan lima atau lebih lainnya Sekolah Dasar swasta. Saya menghabiskan tahun-tahun pendidikan dasar di MIM11 Taman Pendidikan Anak Yatim (TPAY), sebuah sekolah Islam yang berbasis Muhammadiyah. Sekolah ini merangkap asrama yatim piyatu. Tapi saya bukan anak yatim. Dan hal menariknya: 90% siswanya juga bukan anak yatim. Ketika saya kelas satu, sekolah dipimpin oleh Syafi'i, seorang pengusaha bambu di Gowah. Dan pada 1994, guru agama Miftakhul Ma'ayis, yang sebelumnya wakil kepala sekolah, menggantikannya.

Selain SD TPAY, ada juga SD Islam Sultan Agung yang menyebut dirinya sekolah dasar negeri Islam. SD ini menerapkan sholat sunnat Dhuha, atau sholat pagi, berjamaah bagi siswanya. SD Sultan Agung, yang terletak 30 meter dari rumah saya, dibangun pada 2006. Sebelum berubah menjadi SD, ia sebuah SMP kecil dan Taman Kanan-kanak. SD Sultan Agung berkembang cukup pesat saat ini, dengan ratusan murid baik dari Blimbing maupun desa-desa tetangganya.

Di desa tetangga, Dengok, sebuah SMP menampung banyak pelajar-pelajar dari Blimbing. Saya berjalan kaki 10 menit untuk menuju sekolah itu. SMP tersebut menamai dirinya Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah 11 di Dengok, dan letaknya satu kilometer di timur Blimbing. Sekolah dimulai siang hari dan berakhir pukul lima sore. Sebagian murid-muridnya berasal dari kampung selatan, macam desa Pilok dan Mbetiring. Untuk mencapai sekolah, teman-teman dari kampung itu mengayuh sepeda di bawah terik matahari dengan jarak berkilo-kilo meter.

Masuk SMA, saya belajar di Sekolah Menengah Kejuruan Muhammadiyah 08 Karang Asem di Paciran. Sekolah ini milik Karang Asem, sebuah pesantren di Paciran. Saya terdaftar pada 2002 sebagai siswa periode ketiga di sejak sekolah ini dibangun pada 2000.

Perkembangan Blimbing

Kini, di kelurahan Blimbing, kita menjumpai mini market, fitness center dan akses internet yang lebih gampang. Rumah makan dibikin modern, macam Quick Chicken. Pada tahun 2004, dibangun Wisata Bahari Lamongan (WBL), yang disebut-sebut sebagai Jatim Park II. Tempat ini ramai tiap hari, jadi warga Blimbing tidak perlu jauh-jauh bila ingin berwisata.

Jadi apakah anda orang Gowah, Blimbing, Paciran?

Search using google below
(Cari dengan Google--Ketik kata kunci dalam kotak)


Related Posts:

6 comments:

Anonymous said...

Hello David..salam kenal..aku warga asli desa Blimbing (tepatnya dekat pasar Blimbing) dan melihat desa Blimbing sekarang memang berkembang sangat pesat...hampir tidak menemukan kesulitan tinggal di sana, krn kebutuhan rumah tangga mudah sekali didapat, ATM, jaringan Internet yg lumayan cepat, mini market dan warung2 makan yg bertebaran..menyediakan berbagai macam makanan...tapi sayang, di sana kurang tertib, lalu lintas semrawut dan tingkat kepedulian lingkungan warga sangat rendah (membuang sampah rumah tangga di laut/muara sungai)...well...I love Blimbing yg selalu membuatku selalu ingin pulang kampung, terutama makanan khas sana yg serba seafood, rujak petis dr ikan.. :)

btw...My Bakso lokasinya dimana ya ? gak pernah nemu.. :D

Three

David said...

Terimakasih Three untuk komentarnya. Senang sekali ada orang Blimbing yang berkunjung dan berkomentar di blogku.

agus said...

kenalan mas... aku juga from lamongan aguspro.blogspot.com

Anonymous said...

vid awakmu anak'e sopo?

Erdna 'gatot' wicaksono said...

Rencana jadi warga blimbing gagal,gara'' cewek ane di situ ngambek trus hilang komunikasi

Opix said...

Hi there..aku wong ciran tp kerjo nek blimbing.bojoku yo wong blimbing

Post a Comment [ Pop-up Comment Window ]

All comments are welcome as long as they are in English, Bahasa Indonesia and Javanese. (Utk pengguna ponsel, silahkan klik Pop-Up Comment Window diatas bila kesulitan dg kotak komentar dibawah)

Jika masih kesulitan, maka pilih Name/URL. Lalu masukkan Nama dan alamat situs Anda

Catatan: Pengkopian sebagian atau keseluruhan dari artikel ini diperbolehkan dan tanpa perlu ada ijin. Namun Anda harus mencantumkan, "sumber tulisan diambil dari http://davidjuly.blogspot.com"

Follow this blog via Facebook