Friday, January 8, 2010

Tiga Kata Kecil

three little wordsJum’at pagi. Tanggal 15 Desember tahun 2006. Desa Blimbing yang sejuk. Langit masih sangat gelap dan awan sangat tebal. Udara dingin terasa menusuk hingga ke tulang rusuk, membuat remuk bulu kuduk. Ini masih jam 5 subuh. Semalam hujan ringan mengguyur setiap sudut desa ini, mengguyur rumahku, mengguyur bunga-bunga di pekaranganku, dan mengguyur sebuah hunian sederhana di desa sebelah, sebuah desa bernama Dengok. Ya, hujan mengguyur rumah Riris.

Riris, seorang teman kuliah di Unirow. Rumahnya sedang diinapi sahabatnya dari kota Tuban. Sahabatnya inilah yang menjadi alasan aku bangun sepagi ini, bahkan sebelum ayam berkokok dan adzan subuh dikumandangkan. Sahabatnya inilah yang dari kemarin terus saja menulisiku pesan singkat dan menelponku dua kali sehari, setiap hari -- pagi hari dan malam hari. Sahabatnya inilah yang membuatku merasakan sesuatu yang berbeda. Aku akui itu. Sahabatnya ini bernama sangat indah: Khoirun Nisa.

Dalam Bahasa Arab, Khoirun Nisa berarti, “wanita yang terbaik.” Sangat pas untuk mencerminkan dirinya. Tapi ada satu keunikan saja. Ia tak dipanggil Nisa atau Khoirun, melainkan Icha, sebuah panggilan yang barangkali merujuk pada bunyi Nisa yang, jika tidak fasih diucapkan, akan terdengar seperti “Icha.”

Icha –- gadis anggun, santun, cerdas, dan [jika aku boleh bilang] salehah itu –- selalu berangkat kuliah tepat waktu, berbusana rapi, tak pernah tidak menyelesaikan tugas, tak pernah tidak masuk kecuali sangat darurat. Icha sangat rajin di kelas. Kegemarannya terhadap Bahasa Inggris membuatnya belajar disini, di sebuah kampus bergelar The Prospective University. Disanalah juga aku belajar.

Belakangan semenjak aku mempunyai handphone nokia 3310, Icha sering menghubungiku, meski hanya untuk mengucapkan tiga kata kecil: kapan masuk kuliah?

Ia sangat suka berteman dengaku. Alasannya adalah karena ia bisa belajar Bahasa Inggris bersamaku, bersama teman yang menurutnya memiliki kemampuan lebih dari dirinya -- Sungguh, aku tak pernah merasa begitu. Di SMK M 8 Paciran, aku merupakan satu dari beberapa murid paling bodoh. Jika ada kabar tentang seorang murid dianiyaya gurunya karena menyebalkan dan selalu pulang sebelum jam sekolah, maka itu adalah aku. Tapi entah kenapa Icha justru memandangku dengan sangat berbeda, sangat tidak biasa.

Jadilah aku dan dia saling bertulis SMS, saling bertelpon. Icha bahkan usul ingin menjadi saudaraku. Aku adiknya; dia kakaknya. Icha lahir 15 Desember 1985, yang berarti ia lebih tua dua tahun dariku.

Dan kemarin, bersama Riris, Icha pergi ke Blimbing, desaku. Ia bermaksud menginap di rumah Riris, sahabat yang ia kenal sejak awal mereka kuliah di Unirow (Universitas Ronggolawe). Karena rumah Riris di Dengok hanya beberapa puluh meter dariku di Blimbing, aku memutuskan pergi kesana malam itu. Aku pakai jaket hijau ayahku. Jaket ini agak jadul tapi entahlah aku sangat percaya diri memakainya. Disini sedang musim hujan. Gerimis turun. Berjalan dibawah rintikan air kecil ini membuat suasana menjadi dramatis., dan aku membayangkan film India dimana si gagah Salman Khan berjalan di kota Mumbai, di bawah gerimis untuk menemui kekasihnya.

Di beranda rumah Riris, Icha sudah duduk. Riris sedang ngobrol dengannya sambil menguyup beberapa cangkir teh hangat buatannya. Melihatku datang, Icha tampak begitu berbunga-bunga, dan itu sangat terlihat dari bagaimana ia tersenyum kepadaku, dan dari bagaimana ia bersalah tingkah di depanku. Aku duduk dengan mereka malam itu. Agak lama kami mengobrol. Icha bilang bahwa ia senang bisa mengenal dan menjadi temanku, dan bahwa ia ingin lebih dekat daripada ini. Bingung, aku tidak tahu seperti apa “lebih dekat daripada ini” itu. Yang pasti obrolan kami terasa romantis. Dan untuk kali ini, Icha mengucapkan tiga kata kecil: “Aku sangat senang.”

Disertai si Riris, yang sesekali bercanda atau mencubiti lengan Icha, dan teh manis yang kerap kali menghangatkan lidah kami, kebersamaan malam itu sangat lengkap. Kami bertiga, Riris, Icha dan aku, bersepakat akan berjogging esok pagi. Icha memintaku menjemputnya jam lima. Kami ingin berlari pagi seraya menikmati apa yang biasa orang sebut dengan tiga kata kecil: fresh morning air.

Esoknya, masih gelap, aku bangun, yah, sekitar pukul setengah tiga, dan aku berkali-kali melihat HP jadulku untuk sekedar mengecek waktu. Kenapa jam 5 lama sekali!

Tepat pukul 5 setelah shalat subuh, tanpa sandal, aku berlari kecil ke jalan raya. Aku berlari ke Dengok. Aku berlari ke sebuah rumah sederhana, yang berada tepat di bibir jalan raya. Aku ucap salam. Mereka, dua gadis muda ini, telah siap dengan pakaian joggingnya. Icha pakai celana biru; Riris mengenakan kaos hijau dan celana training hitam.

Di luar basah. Bekas air hujan menggenang di sebagian jalan raya, membuat aspal terasa lengket di kaki. Hujan semalam memang agak lebat.

Aku, Icha dan Riris mulai berlari kecil ke arah timur, di atas lantai aspal yang dingin. Kami bercanda ria. Saat giliran lomba lari, aku berada paling depan kemudian disusul dengan Icha dan baru kemudian Riris yang tertinggal jauh di belakang.

Dan hari itu, tepat tanggal 15 Desember, adalah hari istimewa bagi Icha; ia sedang berulang tahun. Aku tidak pun mempunyai hadiah atau kado yang spesial untuk kuberikan padanya. Aku tak punya alroji merek Danish atau ponsel N70 untuknya. Aku juga tak membawa bunga. Aku tak pandai dalam hal kado-mengkado dan kejut-mengkejut seperti ini. Akhirya kami berlari berdua saja. Kami tinggalkan Riris –- yang kepayahan –- di belakang. Di pagi hari, di hari ulang tahun itu, hanya ada Icha dan aku. Jalanan tempat kami berlari tiba-tiba menjadi sepi, dan seolah hanya ada dua manusia saja yang menikmati mentari pagi ini.

Dan di antara gemuruh jalan raya yang sepi dini hari itu, dan dedaunan pagi yang bersenandung, Icha mengucapkan tiga buah kata kecil: Aku sayang kamu

Dedicated to Icha


Search using google below
(Cari dengan Google--Ketik kata kunci dalam kotak)


Related Posts:

2 comments:

si Rusa Bawean said...

ehm
cieeee

bioahmed said...

haduhhh haduhhh...........
kok gak di ceritakan kabeh sampek mari tohh Bok??

Post a Comment [ Pop-up Comment Window ]

All comments are welcome as long as they are in English, Bahasa Indonesia and Javanese. (Utk pengguna ponsel, silahkan klik Pop-Up Comment Window diatas bila kesulitan dg kotak komentar dibawah)

Jika masih kesulitan, maka pilih Name/URL. Lalu masukkan Nama dan alamat situs Anda

Catatan: Pengkopian sebagian atau keseluruhan dari artikel ini diperbolehkan dan tanpa perlu ada ijin. Namun Anda harus mencantumkan, "sumber tulisan diambil dari http://davidjuly.blogspot.com"

Follow this blog via Facebook